Twitter Adalah Media Sosial yang Didesain Sebagai Tempat Sampah

Twitter, media sosial yang didesain seperti tempat sampah. (Twitter.com/waste4change)

Twitter adalah media sosial yang sangat unik. Berbeda dengan Instagram atau Facebook yang didesain untuk saling pamer atau saling sindir, Twitter memang sengaja didesain sebagai tempat sampah. Beda banget kan, di FB atau IG seakan semua unggahan itu berharga, tapi di Twitter isinya seperti sumpah serapah, protes, dan semua sisi gelap dari warganet.

Mas Galih, redaktur utama dari kantorku selalu merasa unik dengan mekanisme pengguna Twitter yang memang sangat berbeda dari media sosial lainnya. Twitter lebih mirip seperti bak sampah yang ditempatkan di depan rumah pemiliknya. Isinya ya jelas sampah, unek-unek, protes, atau guyonan-guyonan nggak penting yang levelnya memang ya sampah.

Nggak mungkin kan FB dan IG memposisikan mereka jadi tempat sampah. Masa iya motor keren, mobil, ponsel mahal, perhiasan, foto plesiran, atau sejenisnya dibuang ke sana. Udah jarang-jarang dibuang, sekalinya dibuang kan pasti langsung jadi pusat perhatian banyak orang.

Di bak sampah Twitter, pemilik rumah membuang apa saja yang terasa mengganggu pikirannya. Satu sampah dibuang. 10 menit kemudian sampah lain dibuang. Satu jam lainnya sampah lain dibuang. Begitu seterusnya hingga sampah ini terus menumpuk. Orang-orang yang lewat tahu kok siapa pemilik bak sampah itu. Sampahnya apa juga keliatan, tapi yang sudah ketumpuk di dalam tentu sulit diliat. Kebanyakan orang yang lewat nggak akan peduli. Lagipula, siapa juga sih yang peduli dengan sampah orang lain?

Ada sih, tetangga dekat pemilik rumah yang terkadang tanpa sengaja lewat dan ngeliat. Eh mereka ngajak ngobrol pemilik rumah tentang masalah sampah yang sama. Si pemilik rumah dan bak sampahnya juga mengaku pernah jalan ke berbagai tempat ya nemu orang-orang lain memiliki sampah yang sama di bak sampahnya. Lalu, pemilik rumah dan tetangga dekatnya sepakat. Oh, ini masalah sampah ini nggak diurus beneran sama pengelola (baca: pemerintah), ya?

Lalu, kok ada sih sampah-sampah yang bisa viral? Jadi gini. Selain bak sampah, Twitter juga menyediakan truk sampah yang lewat setiap hari dengan bak terbuka. Truk sampah ini adalah selebtwit atau tagar yang memang disiapkan agar ramai dan nyari perhatian banyak orang. Kalau kamu mau sampahmu baunya nyebar kemana-mana, ya tinggal buang aja sampahnya di bak terbuka truk ini.

Aku pernah kok iseng nyoba buang sampah ke truk sampah. Sampahnya receh banget sih, guyonan nggak penting, eh taunya baunya beneran nyebar kemana-mana. Viral dapet ribuan RT dan Likes. Tapi abis itu ya nguap gitu aja. Follower ya itu-itu aja dari temen deket. Gagal jadi selebtwit sih. Emang dasarnya tampang dan pikiran nggak menjual.

Hanya, soal sampah yang jadi obrolan sama tetangga dekat ini, ya udah, cuma jadi obrolan sesaat aja. Nyari solusinya juga nggak bisa wong pengelola (pemerintahnya) nggak peduli. Jadi, abis sang tetangga dekat ini pulang, ya sudah sampah yang dibicarakan ini ketumpuk sampah lainnya lagi. Begitu aja seterusnya.

Lantas, beda nggak dengan story Whatsapp? Ya beda lah. Story Whatsapp itu seperti menempatkan kresek hitam di pintu gerbang, lalu diberi label plastiknya untuk siapa. Nah pas yang namanya ada di plastik ini ngambil dan membuka, eh terluka sama isinya yang ternyata adalah benda tajam. Beda kan?

Nah, tiba-tiba ada orang nggak tahu tujuannya tiba di bak sampah dan mulai mengorek bak sampah tersebut tanpa izin. Entah apa maksudnya, dia memasukkan tangannya mulai mencari-cari sesuatu jauh di dalam bak sampah. Dia seperti sangat yakin ada sampah yang memang dicarinya. Lalu tiba-tiba, tangannya terluka. Sepertinya ada benda tajam seperti beling atau duri, sampah yang ternyata dipermasalahkan sang pemilik bak sampah sebelumnya dengan sang tetangga, yang melukai orang tersebut.

Si pengorek sampah marah besar, bak sampahnya diangkat dan dibuang di tengah jalan. Tangannya terluka dan berdarah. Si pemilik bak sampah keluar dari rumahnya, bingung melihat isi bak sampahnya sudah berserakan di jalanan. Orang-orang lain berdatangan untuk melihat kehebohan apa yang terjadi. Si pengorek sampah lalu memarahi si pemilik bak sampah.

“Kamu itu ya, sengaja pasti kan masukin benda tajam di bak sampahmu jadi tanganku sampai luka dan berdarah gini. Aku sudah tahu pasti ada benda tajam itu sebelum mengoreknya, dan terbukti kan sekarang.”

Si pemilik bak sampah bingung. Dia tahu itu bak sampahnya, dia tahu benda tajam itu memang sampahnya. Dia masih nggak mengerti, bak sampahnya yang sengaja ditempatkan hanya di depan rumah dan lebih banyak nggak dipedulikan banyak orang tiba-tiba bisa melukai orang lain.

Orang lain semakin banyak berdatangan, si pengorek sampah terus berkata kalau si pemilik bak sampah sengaja membuang benda tajam di bak sampahnya sendiri. Dia ingin memastikan bahwa orang lain juga akan ikut menyalahkan si pemilik bak sampah, terus, tanpa lelah.

Aktif di Twitter @usuyeong dan IG @masbag

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store