Tentang Bus yang Terus Menderu

Perjalanan dengan bus. (Twitter/newvdtv)

Aku masih ingat betul pemandangan saat itu. Pagi hari sekitar pukul 06.30 di tengah-tengah jalan di antara Nganjuk dan Ngawi. Aku duduk sendiri di kursi dekat dengan ban belakang kiri bus. Bus ini membawa aku dan teman-teman kuliah seangkatanku pulang dari Study Tour ke Bali.

Saat berangkat ke Bali, di sebelahku ada Dennis. Tapi, dia nggak ikut bus saat pulang karena ada urusan lain di Bali. Jadi, aku yang biasanya ada di sisi tengah, gantian bisa menikmati pemandangan jendela dengan leluasa.

Pemandangan itu sangat surreal. Hutan jati yang meranggas dengan daun yang hampir semuanya sudah berguguran di atas tanah. Semua berwarna cokelat, dari atas pohon yang tinggal menyisakan batang dan ranting hingga ke akar, namun sangat kontras dengan langit yang sangat biru. Ditambah dengan cahaya golden hour pagi, semua terlihat seperti entah cokelat, oranye, atau merah menyala dan dikombinasikan dengan biru. Suasana di sekitar dua bus yang berjalan pelan ini seperti berada di dalam lukisan yang nyata.

Tahun 2007, ponsel sangat berbeda dengan ponsel sekarang. Hampir nggak mungkin bisa mengambil gambar bagus saat itu. Jadi, alih-alih memotretnya dan mendapatkan gambar yang nggak bisa diterima akal sehat, aku memilih untuk hanya menangkapnya di memori otak.

Meski aku pernah mencoba hampir semua jenis moda transportasi, bus tetap menjadi hal yang paling akrab di kehidupanku. Saat tinggal di Toyareja, Purbalingga dulu. Bus antar kota antar provinsi bisa menjadi hal yang sangat spesial karena dinanti-nanti banyak orang di setiap pagi.

Di desa dengan SD Inpres yang pendidikannya sangat tertinggal ini, banyak perempuan yang berprofesi sebagai pemecah batu kali. Setiap pagi, mereka jalan-jalan ke sisi jalan raya untuk melihat apakah ada bus yang akan berhenti di depan gang. Entah Sinar Jaya, Safari Dharma Raya, Coyo, dan lain-lain. Mereka menanti, apakah suami atau ayah mereka pulang dari perantauan setelah berbulan-bulan.

Tahun 90-an, nggak ada itu ponsel. Listrik aja baru ada entah saat aku umur berapa. Dulu, kalau perlu menelepon, aku dan ibuku harus naik bus ke arah Klampok, Banjarnegara. Jadi, setiap pagi, setelah menelusuri hutan bambu yang saking lebatnya nggak bisa ditembus sinar matahari dengan tanah yang ditutupi dedaunan yang jatuh, kami akan tiba di dekat jalan raya. Mungkin saja pagi itu bapakku pulang, mungkin saja.

Selain di Purbalingga, aku pernah tinggal di Ciamis dan TK di sana. Ibuku masih ingat, saat perjalanan ke Ciamis, di tengah-tengah bus yang sesak, entah bagaimana ceritanya ada bule ikut di dalamnya. Sang bule terus mengajakku bermain dan menanyakan namaku yang ada dalam gendongan. Ibuku selalu mengingatnya karena saat itu kondisi ekonomi keluarga sangat miskin, dan dia berdoa kali aja aku berkesempatan ke luar negeri agar bisa bertemu bule yang baik seperti di bus itu. Doanya terkabul rupanya.

Karena keluarga asli bapakku dari Karangawen, Demak, sesekali kami pasti naik bus ekonomi semacam Maju Makmur atau Tri Kusuma ke sana. Percayalah, perjalanan bus ekonomi dari Purbalingga ke Semarang adalah yang sangat berat.

Kau pasti mabuk saat melintas di sekitar Banjarnegara, Wonosobo, atau Temanggung. Entah karena supir yang ugal-ugalan, wangi parfum menyengat bercampur keringat yang membuatmu nggak bisa bernapas lega, atau barang-barang seperti udang segar dan bahan lain yang membuat kepalamu terkena vertigo level akut.

Hanya, dari perjalanan ini pulalah muncul kenangan tentang tempe kemul hangat yang nggak ada duanya di Terminal Wonosobo saat hujan dan berkabut, atau sensasi melewati tikungan tusuk konde (u-turn) di Kwadungan Jurang yang konon sudah memakan puluhan bus dan truk masuk jurang. Seru sih itu sensasinya, beneran!

Dengan bus juga pulalah aku hampir menjelajahi hampir seluruh pesisir selatan Republik Korea. Setibanya di Bandara Incheon, aku, Ami, Intan, dan Julia naik bus untuk tiba di kawasan gedung Olimpiade. Setelah itu, kami berpisah untuk tiba di proyek masing-masing. Sialnya, aku harus ke ujung paling Selatan Korea, Usuyeong, desa yang berbatasan dengan Pulau Jindo.

Aku, Sarah, dan Junseok hanya bertiga di bus yang membawa kami dari Seoul Station. Lima jam perjalanan, aku dan Sarah banyak bertukar pendapat, sementara Junseok lebih memilih tidur. Sejak saat itu kami tahu, Aku dan Sarah lebih akrab saat bersama dan kami lebih sering menghabiskan waktu bermain apa saja di Usuyeong.

Saat jalan kaki di pagi hari sebelum mengajar di SMP, aku sering sekali melihat bus sekolah dari desa-desa sebelah (Usuyeong adalah kota kecamatan) yang mengantar anak-anak sekolah. Bus-bus itu sudah kusam macam bus yang akan kau bayangkan di Korea Utara, tapi masih kokoh. Di sekitar bus-bus tersebut, penuh dengan mobil pick up yang dipenuhi barang jualan di pasar tumpah atau motor ATV yang dibawa manula dari rumahnya.

Perjalanan bus jarak jauh pertamaku sendirian adalah ke Gyeongju, sisi timur Korea. Saat itu sedang Chuseok, jadi jalan penuh dengan mobil-mobil yang sedang mudik. Aku dan empat orang lain naik bus ekonomi yang terkadang AC-nya mati dari Haenam. Beda dengan kebanyakan bus dari Seoul yang masuk tol dan hanya berhenti dari rest area, bus yang berhenti di Sasang-gu, Busan ini mirip dengan Maju Makmur, berhenti di setiap kota kecil di pesisir selatan Korea.

Gangjin, Jangheung, dan Boseong masih memiliki ciri khas daerah pertanian semacam Haenam. Saat masuk ke Beolgyo, langsung terlihat sisi mblethek-nya Korea. WC di terminal ini banyak yang airnya mati, pesingnya minta ampun. Setelahnya, kota-kota kecil seperti Haeryeong terlihat dari kejauhan sebelum memasuki Jinju, Haman, Gimhae, hingga akhirnya masuk ke Busan.

Saat tengah hari, aku sendirian di Terminal bus Sasang-gu. Saat bertanya tentang bus ke Gyeongju, petugas bilang aku harus ke Terminal Nampodong, Busan. Ternyata, bus hanya berhenti di sisi barat daya kota, dan aku harus naik subway ke sisi timur laut kota.

Perjalanan dengan kereta yang nggak selalu di bawah tanah ini dan terkadang ada jalur yang naik karena kontur Busan yang mirip dengan Semarang ini sekitar satu setengah jam. Aku sempat berganti platform sekali, khawatir banget nyasar karena itu untuk pertama kalinya naik subway sendirian. Tapi ternyata sampe juga.

Bus dari Busan ke Gyeongju mewah banget walau harganya hanya 4000 Won. Kursi semender bisa buat slonjoran. AC-nya enak dong, dan lega banget. Kontras banget dengan bus mbletek yang aku pakai sebelumnya seharga 18.500 won.

Sesampainya di Gyeongju, aku dijemput Nara. Kita muter-muter Gyeongju, mostly dengan jalan kaki (dia ngeluh sebenarnya kenapa harus jalan kaki tapi karena aku kere jadi agak memaksa), but it was worth.

Sedikit mirip dengan perjalanan di antara Ngawi dan Nganjuk, aku juga pernah merasakan sensasi surrealis saat naik bus dari Apartemen temanku di Suwon ke Suwon Station. Setelah melewati persawahan pukul 08.00 pagi (sunrisenya jam segitu karena musim dingin), aku melewati pinggiran kota yang padat namun masih sepi. Terlihat banyak orang olah raga dan bersih-bersih. Golden hour juga membuat pemandangannya sangat indah. Dan bodohnya sama sekali ndak aku ambil gambarnya dengan kamera.

Perjalanan bus terakhirku di Korea adalah saat akan pulang dari rumahnya Eom Ji di Bucheon ke Incheon. Saat itu sudah musim dingin dan kabutnya sangat tebal. Aku nggak benar-benar bisa melihat pemandangan di sekitar jalan. Sepertinya, jalanan itu adalah tol di atas laut atau muara.

Di tengah malam sebelumnya, aku hanya duduk di balkon apartemennya di lantai 16 sambil melihat jalanan kota yang seperti nggak sepi-sepi. Merenung sendirian kapan lagi bisa menikmati perjalanan gila di negeri orang sebelum akhirnya pulang.

Aku masih ingat saat STM, jarak rumahku yang sangat jauh dari Kota Semarang membuatku harus berangkat pukul 05.30 setiap pagi. Kalau aku masih nggak dapet bus di Karangawen jam 06.15, pulang aja deh, toh telat nggak boleh masuk. Haha. Tapi kalau bisa dapet bus dari arah Blora dan kemudian berganti dengan bus kuning Rata Kencana di Penggaron, suasana jadi sangat berbeda.

Anak STM yang nakal-nakalnya dulu bahagia kalau melihat cewek-cewek SMA 1,2, 3, atau 5 yang bening-bening (maklum di STM nggak ada cewek). Kalau ada yang rambutnya diikat dan tengkuknya kelihatan. Udah, mesum semua tuh anak STM pikirannya. Hanya, karena nasib jadi anak STM pula, seringkali kita disuruh bergelantungan di pintu hingga busnya miring ke kiri saat jalan.

Setelah lulus kuliah, semakin jarang aku naik ke bus atau minimal mampir ke terminal. Di Jogja, aku hanya beberapa kali mampir ke Terminal Jombor. Bertemu dengan teman dari Sumut si Nensy, atau mengantar Dennis pulang ke Semarang naik bus setelah motoran jauh banget dari rumah simbahnya di Jalan Wates.

Konyolnya, meski sering sekali sepedaan tengah malam atau naik motor muter-muter kota saat sedang suntuk atau patah hati, aku ndak pernah iseng naik Trans Jogja, sekalipun.

Terakhir aku naik bus adalah dari Bawen ke Solo tahun 2019. Di sana sempat ketemu Galih Homo yang katanya sekarang balik ke Dieng buat bertani. Dan sampai sekarang, impian untuk naik bus dari Jawa sampai ke Banda Aceh belum terpenuhi.

Aktif di Twitter @usuyeong dan IG @masbag

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store