Sungai yang Tak Lagi Jernih

Sekali-kali narsis di kali yang ada di Jangheung

Begitu bus melewati Bukateja, aku akan mempersiapkan barang-barangku. Ya, aku akan segera turun di rumah simbahku yang ada di persis pinggir jalan Desa Jetis, Kemangkon. Tapi, sebelum tiba, aku pasti akan melewati sebuah jembatan dengan panjang kurang dari 100 meter. Jembatan ini melewati Sungai Klawing, sungai yang menghiasi sepuluh tahun pertama kehidupanku.

Dulu rumahku berbeda satu desa dari rumah simbah. Di desa Toyareja, Dusun Karangsari. Desa ini langganan kena banjir karena memang lokasinya mirip dengan Kampung Pulo di Jakarta, diitari Sungai Klawing. Kalau aliran airnya lagi banyak, ya sudah, desaku pasti tenggelam. Kadang, air yang menggenang nggak nyampai satu meter, namun saat aku tinggal di Ciamis, simbahku pernah sampai memanjat atap rumah karena banjirnya sangat tinggi.

Semakin ke sini, semakin aku nggak mengenal Sungai Klawing yang aku tahu dulu. Nggak ada lagi semacam “pantai” di pinggiran sungai ini. Nggak ada lagi ceruk-ceruk di antara pasir atau bebatuan yang terkadang berisi air dan ikan-ikan kecil. Nggak ada lagi juga jeram yang bisa diseberangi di pertemuan dengan Sungai Kacangan.

Di jeram itu, dulu aku dan teman-temanku sering bermain. Terkadang, kita memotong pohon pisang dan menjadikan batangnya sebagai semacam perahu untuk mengarungi aliran sungai. Meski aliran airnya terkadang deras, jeram ini tergolong aman untuk anak-anak kecil. Hanya, belakangan aku baru mendengar kalau kakak temanku yang dulu selalu mengawasi kami bermain di sana, sudah meninggal.

Di dekat dengan jembatan, aliran airnya cenderung lebih tenang. Hal ini menandakan kalau di bagian tersebut cukup dalam. Terkadang, ada beberapa perahu kecil dengan lebar pas sebadan dan hanya muat dua orang yang kami tumpangi untuk dimainkan sampai ke bagian tengah sungai. Padahal, ada isu di sekitar itu ada buaya. Tapi dasar anak kecil, bodo amatnya terlalu kuat.

Dengan sejarah sering bermain di sungai, cukup aneh karena aku sampai sekarang nggak bisa berenang. Alasannya banyak. Di lokasi selain jeram, arusnya cukup kuat. Beberapa kali kasus orang hanyut terjadi di situ. Ditambah dengan unsur mistis dari sungai ini yang sangat kuat, aku pun seperti mengurungkan niat untuk belajar berenang dan memilih mainan air di pinggiran saja.

Waktu ibuku masih kecil, dia punya geng tiga orang yang selalu main bersama. Ceritanya, saat bermain bersama di pinggiran sungai, tiba-tiba saja satu temannya seperti “ditarik” ke tengah sungai dengan sangat cepat. Ibuku melihat sendiri saat orang-orang pintar didatangkan untuk mencarinya. Dari pusaran air sungai yang aneh, rambut temannya ditarik, sayangnya, nyawanya sudah hilang entah ke mana.

Isunya, sungai itu dijadikan semacam “jalan” bagi Nyi Roro Kidul untuk pergi ke Gunung Slamet. Ada orang-orang yang hobi mancing mengaku terkadang mendengar suara gamelan seperti akan ada pawai yang tiba. Ada juga yang saat memancing bermimpi ditemui orang tua berjanggut putih, lalu saat sadar tiba-tiba spot memancingnya sudah dibanjiri air yang meluap hingga sedada.

Terkadang, kami berjalan menyusuri sisi sungai terus ke utara. Entah sejauh apa dulu kami berjalan. Dari yang awalnya hanya mengumpulkan biji ketapang untuk dijadikan camilan, kami menemukan sungai dengan aliran yang terlihat tenang, tapi dipenuhi perahu berukuran cukup besar. Perahu-perahu ini sepertinya dipakai untuk menambang pasir dari dasar sungai. Sayangnya, penambangan besar-besaran inilah yang mengubah sungai ini menjadi nggak lagi bisa dijadikan tempat bermain.

Semenjak itu, sangat jarang aku melihat sungai yang bisa dijadikan tempat bermain di Indonesia. Nggak harus jernih sih, asalkan terlihat bersih sebenarnya sudah cukup. Terakhir aku bermain di sungai yang aku anggap bersih saat dulu Workcamp di Banyuringin, dekat dengan perbatasan Kendal — Temanggung.

Sungai bersih, walau nggak jernih di Banyuringin

Meski sekarang tinggal di gunung dan bisa menemukan air bersih, sungai yang telah melewati rumah-rumah penduduk sudah kotor karena dipenuhi limbah rumah tangga dan sampah. Padahal, sebagai orang yang bertahun-tahun tinggal di Karangawen yang kesulitan melihat air jernih, sangatlah getun melihat sungai kotor seperti itu.

Di Kota Jeonju, ada sungai yang ada di dekat dengan Hanok Village yang sangat cakep. Sungai itu sangat bersih dan jernih. Sebagaimana di kota-kota lainnya, termasuk Jangheung yang kecil dan asri di foto itu, sungainya bisa diseberangi karena ada semacam stepping stone. Hanya, di sisi-sisi sungai itu, ada semacam taman kecil, tempat banyak orang tua bisa bermain catur, jalan-jalan, naik sepeda, atau sekadar tongkrong sambil minum teh.

Ada sejumlah tempat makan atau kedai kopi kecil di dekat situ. Nggak ada sih pedagang asongan atau tendanan gitu. Menariknya, rumput-rumput dan bunga liar seperti dibiarkan setinggi mungkin sehingga membuatnya jadi lebih asri.

Omong-omong, Karangwaru Riverside di Jogja apakah sudah seasik itu tempatnya? Atau kita baru bisa menikmatinya di sekitar Ledok Sambi saja?

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store