Sayup-Sayup Suara Gamelan di Tengah Malam

Terkadang, aku merasa suara gamelan yang terdengar di tengah malam berasal dari radio tua seperti ini. (Flickr/Alan Levine)

Pindah di Karangawen, Demak, membuatku banyak mengalami pengalaman yang cukup aneh. Sebagai contoh, ada kalanya aku mengalami hari-hari di mana angin selalu bertiup dengan kencang. Mengingat belakang rumahku adalah sawah, maka kencangnya angin ini akan sangat terasa. Suara ranting-ranting dan dedaunan bahkan bisa terus bertahan hingga larut malam.

Puting beliung seperti tinggal menunggu jadwal kedatangan tahunan. Aku masih ingat saat dulu pertama kali mengalaminya. Tatkala berjalan kaki usai pulang main sepak bola di lapangan, langit sangat-sangat gelap. Padahal, saat itu masih pukul 16.30-an. Satu-satunya cahaya hanya berasal dari horizon barat, cahaya ini sangat rendah, persis seperti lampu sorot yang menyilaukan.

Sesampainya di rumah, angin kencang melanda. Warga desa yang terbiasa dengan hal ini akan keluar rumah. Duduk-duduk saja di teras karena nggak ingin tiba-tiba atapnya terbawa angin atau rubuh kalau tetap berada di dalam. Logikanya, kalau ada apa-apa, tinggal lari ke halaman pasti selamat, bukan?

Aliran listrik pasti padam, namun, di tengah-tengah suasana yang sangat gelap, aku masih bisa melihat cantiknya kapuk yang terlepas dari pohon randu beterbangan berputar-putar di depan rumah. Genteng-genteng tetangga sudah banyak yang ikut terlempar, lalu rumahku kejatuhan pohon lamtoro sehingga membuat ruang tamu bocor.

Saat masa kuliah, rumahku masih sebagian besar berdinding kayu. Jadi, bisa dikatakan aku masih bisa mendengar suara dari luar seperti sepeda motor yang balapan. Hanya, saat aku terbangun sekitar pukul 01.30-an, suara yang terdengar adalah kombinasi antara menenangkan sekaligus mengerikan.

Suaranya seperti entah gamelan, langgam jawa, atau campursari namun versi yang lebih tradisional, lengkap dengan sindennya. Kalaupun ada orang yang hajatan, biasanya pukul 23.00 atau 00.00 sudah bubar mengingat kultur miras yang kuat di desa tersebut biasanya akan memicu keributan kalau hiburan terus dilanjutkan lebih larut. Aku pun menduga suara ini berasal dari orang yang menyalakan radio.

Mengingat aku suka dengan lagu-lagu langgam jawa, aku yang saat itu yang setengah ngantuk setengah sadar sebenarnya lumayan menyukainya. Hanya, terkadang suara ini seperti hilang terbawa angin. Volumenya terkadang menghilang, menjauh, lalu kemudian kembali nyaring dan terasa sangat dekat. Hal ini terus berulang hingga akhirnya aku tertidur kembali.

Beberapa kali aku mendengar suara tersebut, aku tetap tidak merasa terganggu. Toh suaranya enak, pikirku. Apalagi jika suara ini juga diiringi dengan suara kereta api yang lewat di selatan. Meski jarak rumahku dengan rel terdekat sekitar 4 km, karena kondisi dini hari sangat sepi, suara kereta yang sedang melaju akan terdengar, dan entah mengapa sangat menenangkan.

Tatkala aku merantau di Jogja, kosku yang ada di Blunyahrejo, Karangwaru lokasinya juga nggak begitu jauh dari rel kereta. Kalau mau iseng sepedaan ke selatan sedikit, melewati Tugu Jogja, juga nantinya ketemu dengan stasiun.

Aku dikenal sebagai orang yang pulang paling larut di kos-kosan. Ibu kos bahkan sampai sengaja memberikanku kunci gerbang sendiri karena tahu benar dengan kebiasaanku. Setelah pulang kerja, aku biasanya memang memilih untuk iseng tongkrong atau muter-muter di Jogja. Nggak, aku bukan tipikal penikmat Dugem, nggak cocok aja. Lebih suka nyari gudeg yang baru buka tengah malam, nongkrong di kedai susu, atau tempat-tempat santai lainnya.

Sesampainya di kos, aku biasanya malas mandi. Sebelum tidur, aku sering mendengar suara kereta. Terkadang juga dilengkapi dengan peluitnya. Sama-sama berasal dari arah selatan, persis dengan yang kudengar saat berada di kamar rumahku di Karangawen.

Omong-omong, aku pernah mengalami kejadian lucu di tengah malam. Jogja memang terkadang terkena gempa-gempa kecil. Sebelumnya, aku mengalaminya saat buang air besar. Pasti bingung kan harus bagaimana saat belum tuntas tapi pikiran rasanya ingin lari? Haha. Tapi, kejadian di tengah malam itu sukses membuatku panik terbirit-birit keluar kos.

Suara seng di depan kamar kosku bergemeretak sangat kencang. Aku yang tersentak dari tidur langsung berpikir ada gempa. Entah bagaimana ceritanya aku bisa melesat dengan sangat cepat membuka kunci dan keluar rumah. Padahal, biasanya kalau memang ada gempa, sulit membuka pintu karena engsel terganggu akibat kondisi tanah yang bergerak.

Aku nggak sempat memakai sandal dan terus melesat ke tanah kosong. Hanya, ternyata cuma aku sendirian yang keluar. Temen-temen kos lain tetap stay di dalam kamarnya. Aku kemudian baru sadar, tanah yang kupijak nggak bergoyang sama sekali, tapi suara seng masih bergemuruh. Ternyata, penyebabnya adalah kucing yang sedang kejar-kejaran.

Di Jogja, aku nggak pernah lagi mendengar suara gamelan atau langgam jawa di tengah malam. Sayangnya, aku juga nggak pernah mendengar suara drum band yang legendaris. Konon, kalau perantau mendengar suara drum band itu, artinya bakal diizinkan tinggal di Jogja. Ya bisa jadi karena nggak pernah mendengar itu pula aku akhirnya pergi dari Jogja dan hingga sekarang belum nemu cara kembali ke sana.

Anehnya, sekitar setahun lalu, aku yang sekarang tinggal di lereng Gunung Ungaran bagian selatan sempat mendengar suara gamelan atau langgam jawa sekitar pukul 02.00. Suara ini nggak sayup-sayup ataupun sempat terbawa angin. Hanya, volumenya cukup kecil sehingga aku nggak bisa memastikan dari mana posisinya.

Aku sempat bertanya ke beberapa orang tentang hal ini, tapi nggak ada seorang pun yang mengaku mendengarnya meski saat itu mereka terjaga. Saat itu, aku bahkan iseng menjadikannya story di Whatsapp dan Medsos.

Lucunya, aku terkadang kangen juga dengan suara langgam jawa di tengah malam itu. Apalagi jika dikombinasikan dengan suara kereta. Maklum, sekarang lokasi tempat tinggalku sangat jauh dari rel ataupun stasiun.

Aktif di Twitter @usuyeong dan IG @masbag

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store