Roti Bakar Depan Kampus Sastra Pleburan

Kampus Sastra Pleburan sudah ditinggalkan karena pindah ke Tembalang.

Di suatu pagi tahun 2005, aku terbangun di jam yang sama seperti biasa. Hari itu adalah pengumuman hasil SPMB. Entahlah, kalau jaman sekarang mungkin namanya lebih panjang ya? SBMNPNMBMNPTN mungkin ya? Ya intinya, banyak teman-temanku yang sudah ngendon di warnet sejak tengah malam. Ada juga yang sejak subuh sudah datang ke Undip buat nyari koran besar yang isinya daftar siapa saja yang diterima di sana.

Jujur saja, aku dulu nggak optimis lolos SPMB. Ada banyak sih alasannya. Satu, aku lulusan STM. Bukannya merendahkan STM, tapi kan soal-soal SPMB kebanyakan basic-nya pelajaran SMA. Sebelum tes, aku bahkan sampai iseng baca-baca pelajaran SMA selama beberapa minggu yang kerasa banget bedanya. Usai tes, aku sudah kepikiran nggak bakal lolos dan nyari kerjaan dengan ijazah STM dan skill elektronika yang nggak kunjung aku mengerti.

Tiba-tiba, ada panggilan datang ke ponsel orang tuaku. Dari temenku yang mengaku sudah mengambil koran pengumuman dan bertanya soal hasilku. Dia diterima di Fakultas Olahraga Unnes. Aku nggak bisa menjawab apakah diterima atau nggak karena memang belum mengecek. Alhasil, aku pun akhirnya mandi dan berangkat ke Undip dengan penuh rasa enggan untuk mendapatkan koran.

Dugaanku kalau aku bakal berdesak-desakan hanya demi mendapatkan koran pengumuman ternyata salah. Mungkin karena aku sudah tiba jam 9-an, bukannya sejak pagi. Suasana di dekat dengan Auditorium ini justru sepi. Aku sempat melihat sejumlah pemuda sujud di trotoar tanda bahwa mereka diterima. Lalu, aku mencari sendiri namaku di koran yang aku ambil. Sambil keheranan, aku melihat nama dan nomor pendaftaranku tertera di situ. “He, aku diterima?”

Dengan konyolnya, aku nggak membawa kartu ujian SPMB. Aku hanya tahu diterima, tapi nggak tahu apakah diterima di Undip atau Unnes. Alhasil, aku harus pulang ke rumah lagi untuk mengetahuinya.

Sesampainya di rumah yang jaraknya 25 km dari Undip Pleburan itu, aku langsung mengecek kartu ujian. Ternyata aku diterima di Sastra Inggris Undip. Lalu aku bingung, ini aku mau jadi apa ya kalau kuliah di sana. Kalau di keguruan Unnes kan pasti jelas kan ke mana arahnya.

Jadi gini, dulu aku masuk STM karena satu alasan sederhana, bapakku nggak yakin bisa nguliahin aku karena faktor ekonomi. Logikanya, kalau masuk STM, bisa langsung kerja di pabrik atau jadi TKI. Sejak saat itulah, aku meninggalkan ketertarikanku pada dunia geografi, geologi, dan sejenisnya. Agak getun sih, tapi saat itu juga aku nggak tau dunia geografi itu bagus apa ndak sih di dunia kerja.

Anehnya, saat aku mau lulus STM, tiba-tiba bapak yang tahu aku sangat kesulitan beradaptasi dengan pelajaran STM, langsung bilang “Sana daftar kuliah, pilih jurusan yang sekiranya kamu bisa.”

Jujur aja, alasan utamaku dulu masuk ke Sastra Inggris cuma satu. Ya nilai pelajaran Bahasa Inggrisku paling mending dari nilai-nilai pelajaran lainnya. Entah kenapa nggak kepikiran mbalik ke peminatanku ke dunia geografi. Mungkin mikirnya karena di STM hampir nggak pernah dapet pelajarannya kali ya. Alhasil, tujuan utamaku mendaftar kuliah ya yang terkait dengan Bahasa Inggris. Nggak kepikiran juga merantau ke luar kota. Ya cuma nyari kuliahan di Semarang aja.

Semenjak masuk kuliah, sangatlah kerasa betapa aku sebenarnya sangat tertinggal dari teman-teman lainnya. Ini seperti balapan di mana aku harus start dari Pit Lane, sementara pembalap lain sudah melaju melewati start beberapa saat lalu. Meski begitu, aku cukup terkejut karena ternyata bisa mengikuti ritme dunia perkuliahan ini.

Sesi mengisi KRS yang harus mengantri di dekat TU karena komputernya cuma dua biji untuk ratusan mahasiswa dari berbagai tingkat angkatan bisa kulakukan. Konyolnya, dulu aku sama sekali nggak mudeng komputer, lho. Ngetik aja masih dua jari. Kuliah juga sama sekali nggak ngerti soal organisasi, perkumpulan, atau komunitas. Pokoknya, tahunya berangkat kuliah, main atau tongkrong sambil kegatelan akibat banyak bulu ulat jatuh dari pohon, lalu pulang.

Untungnya, aku menemukan teman-teman yang bisa dikatakan mengerti betapa tertinggalnya aku dari dunia mereka. Bisa dikatakan, aku diberitahu banyak tentang berbagai hal. Singkatnya, aku jadi mengerti, kuliah nggak hanya tentang mendapatkan ilmu, tapi persahabatan, atau bagaimana berkembang menjadi orang yang lebih baik.

Hasil ujian semester 1 sudah keluar di KHS. Ternyata nggak buruk-buruk amat. Usiaku saat itu belum mencapai 18 tahun. Aku berjalan ke depan kampus Sastra Undip Pleburan yang bangunannya sebenarnya lebih mirip seperti Puskesmas tahun 70-an. Setelahnya, aku memesan roti bakar isi cokelat satuan yang harganya dulu hanya Rp 1.000. Roti ini kunikmati sambil duduk di sisi jalan yang rindang karena kampus ini memang masih dipenuhi pepohonan yang lebat.

Matahari belum begitu terik karena saat itu nggak lebih dari pukul 9.30. Aku menghabiskan roti tersebut sambil melihat mahasiswa-mahasiswa dengan pakaian yang cenderung sangat santai. Terlalu santai jika dibandingkan dengan mahasiswa dari fakultas lainnya.

Kondisi ini persis seperti segmen terakhir dari film Paris Je’Taime berjudul “14e Arrondissement”. Di momen tersebut, aku seperti tersentak. Ini seperti ada di dunia yang sangat baru, dunia yang ternyata sangat kunikmati dan kurindukan hingga saat ini.

Aktif di Twitter @usuyeong dan IG @masbag

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store