Desa di Seberang Pulau Jindo

Jalan-jalan di Desa Dongoe-Ri yang kecil dan terisolir.

Weekend itu, sekitar pukul 15.00, Sarah tiba-tiba mengajakku bersepeda. Kebetulan, di Child Center yang ada di lantai bawah tempat kami tinggal ada beberapa sepeda. Biasanya, keluarga yang merawat kami akan mengajak ke kota-kota sebelah seperti Mokpo, Sunchang, Jangheung, atau jalan-jalan ke Museum Dinosaurus. Tapi, weekend itu kami di rumah saja. Hal itu membuat Sarah bosan sehingga tercetuslah ide buat sepedaan.

Kami awalnya bingung mau kemana mengingat di desa tempat tinggalku, Dongoe-Ri, Kecamatan Munnae-Myeon, Kabupaten Haenam ini beneran sangat terpencil dan jauh dari mana-mana. Hanya ada sekumpulan gedung dan rumah yang kalau diputari jalan kaki juga bakal habis nggak nyampai satu jam. Di sekitarnya hanya sawah dan bukit-bukit tandus yang dikepras untuk mengurug laut di sekitaran Mokpo atau dijadikan pondasi sirkuit F1 di Yeongam.

Jangan tanya soal desa-desa sekitarnya. Beneran, desaku seperti sebuah kotak terisolasi yang jaraknya berkilo-kilometer dari kotak terisolasi (baca: desa) lainnya. Kalau nggak punya kendaraan pribadi, mau nggak mau harus makai bus untuk mencapai desa-desa lainnya tersebut.

Dongoe-Ri yang terisolir ya cuma begini aja rupanya

Kami akhirnya memutuskan untuk melakukan ide gila, bersepeda nyeberang ke Pulau Jindo. Ndak sih, kita nggak harus naik kapal. Ada jembatan dari desa yang nyambung langsung ke pulau tersebut. Desa tempat tinggalku memang langsung bersebelahan dengan laut. Hanya, nggak ada pantainya sama sekali. Kalau mau ke pantai ya harus menyusuri jalanan di sisi laut ke arah Ttangkkeut. Di sana ada banyak pantai pasir putih panjang super bersih di pinggir jalan yang sepinya minta ampun.

Usai menyusuri jalanan di sisi laut, jalan sedikit menanjak ke arah jembatan. Kami menuntun sepeda hingga sampai di bagian jembatan yang mendatar. Jalanan untuk sepeda atau jalan kaki di jembatan ini dipisah dari jembatan untuk kendaraan bermotor, jadi pasti aman. Hanya, anginnya sangat kencang, khas angin laut. Walau aman, ada rasa takut kecebur laut juga sih pas bersepeda saking kencengnya itu angin.

Sesampainya ke Jindo, ternyata ya di sana ndak ada desa atau kota terdekat. Jebulnya, Kotanya Jindo masih jauh, 15-an kilometeran lagi kayaknya. Beberapa minggu setelahnya, aku sempat main di kota ini diajak sama keluargaku. Bagusan kota Haenam sih tata kotanya walau sebenarnya jauh lebih ramai Jindo.

Jembatan dari sisi Pulau Jindo

Karena di seberang ya cuma ada tempat macam tongkrongan menikmati pemandangan jembatan, akhirnya kami memilih untuk pulang lagi saja. Lewat jembatan yang sama di jalur sebaliknya. Hanya, saat ada di tengah-tengah jembatan, aku berhenti karena melihat sesuatu yang sangat aneh di selat antara Jindo dan desaku.

Arus laut yang sebelumnya bergerak dari kiri ke kanan jembatan pas aku nyeberang pertama kali berbalik dari kanan ke kiri saat aku nyeberang untuk pulang. Aku sempat menanyakan hal ini ke Sarah, tapi ternyata dia nggak menyadari hal ini. Dengan keheranan kami pun langsung pulang dan mencari kipas angin mengingat saat itu musim panas dan suhunya ndak ada bedanya dengan Semarang.

Karena musim panas, matahari tenggelam sekitar pukul 19.40-an. Makan malam biasanya sudah disediakan pukul 18.00. Hanya, karena saat itu puasa sendiri (saat itu memang bulannya), aku disediakan makanan oleh tukang masaknya pas jam berbuka.

Meski orang tuaku di sana adalah pastur, mereka memastikan aku nggak makan babi atau alkohol. Lucunya, kadang mereka menemaniku buka puasa walau mereka nggak makan karena sudah melakukannya. Pas pertama kali aku berbuka di sana, entah bagaimana tukang masaknya memberikan aku makanan banyak sekali.

Karena ada ibu di situ, aku pikir dia ikut makan, tapi ternyata dia hanya menemaniku makan karena khawatir aku nggak makan atau minum sama sekali seharian. Aku protes karena makanannya sangat banyak, tapi jawaban ibu dan tukang masaknya bikin aku mengerti.

“Kamu nggak makan seharian, pasti lapar, makanya kita bikin banyak, abisin deh.”

Ya udah deh, aku diminta makan akumulasi tiga kali makan sekaligus sampai malam itu aku kekenyangan hingga nggak bisa tidur dengan cepat.

Kalau soal sahur, jamnya ya biasa aja sih. Sekitar jam 4-an gitu. Beda dengan Ami yang tinggal deket Seoul yang mengaku kalau makannya di jam berbuka adalah makan sahurnya juga, aku beruntung karena disediakan roti helaian rasa cokelat yang harganya 800 won isinya 12 lembar. Roti ini biasanya jadi andalanku kalau sedang melakukan perjalanan jauh ke Gwangju dan Gyeongju karena bisa membuatku berhemat. Maklum, uang sakuku cuma 100 ribu won per bulan. Kalau jalan-jalan jauh udah abis separonya sendiri buat perjalanan.

Child Center di Dongoe-Ri

Tinggal dengan keluarga baru di negeri orang bisa jadi adalah pengalaman yang sangat unik. Karena bapakku pastur dan dekat dengan Child Center kami ada gereja, aku pun terkadang ikut bersih-bersih gereja di Minggu pagi. Hanya, yang bikin kangen terkadang justru adalah saat ikut membantu persiapan sarapan pagi.

Junseok memiliki lisensi koki sehingga sering ikut masak bareng ibu. Sementara aku adalah bagian menempatkan nasi merah ke mangkuk logam buat dimakan semua keluarga. Sarah biasanya ikut menata lauk yang banyak banget seperti semacam ikan pindang, daging sapi yang asinnya minta ampun, kimchi, atau sup.

Jika dibandingkan dengan saat makan malam, lauknya memang nggak bervariasi. Maklum, saat makan malam dan makan siang, ada tukang masak khusus di Child Center yang menyiapkan makanan buat anak-anak dari TK sampai SMP yang belajar di sana. Kalau nggak bervariasi ya anak-anak bakal pada bosan.

Kami makan di ruang keluarga. Semua duduk di atas lantai sambil ngobrol soal kegiatan di SMP atau Child Center. Oh iya, kami sarapan pukul 10.00 karena sebelumnya harus mengajar Bahasa Inggris di SMP sejak pukul 08.00. Dan selalu, perjalanan jalan kaki ke SMP sangat kunikmati karena seperti menggambarkan kehidupan nyata di desa-desa Korea Selatan.

Sebenernya ini malah jalan kaki pulang dari SMP sih.

Di seberang Child Center kami ada sebuah hotel yang menyediakan ayam goreng khas Koreanan yang warnanya merah ada wijennya dan bisa dimakan dalam jumlah banyak itu, lho. Sumpah, aku beberapa kali makan kaya begitu di sana tapi nggak ada yang seenak di hotel itu. Setelahnya, kami akan melewati pom bensin, Kantor Pos di sebelah kiri, warung makanan laut di sebelah kanan, toko kelontong tempat belanja roti tawar, chiki, serta es krim jagung 500 Won, dan semacam angkringan khas Korea itu.

Sesampainya di pusat desa, jalan terbelah jadi dua. Di jalanan yang lurus, ada terminal mini di sebelah kanan. Di terminal ini bus-bus dari desa sebelah mengantarkan anak-anak SMP berangkat ke sekolah. Ada bank dan gedung-gedung penting lainnya sampai ke semacam tugu, satu-satunya sumber cahaya terang yang khas kota-kota negara Asia Timur di malam hari. Hanya, SMP tempatku mengajar ada di jalanan yang berbelok ke kiri.

Usai melewati bank persis di pertigaan, ada pasar tumpah yang selalu ramai setiap hari. Hanya, kalau ada “pasaran”, pasar tumpahnya bisa bener-bener sesak dengan mobil pickup yang isinya sayuran atau hasil laut. Eh beneran lho ada macam pasaran di sini, soalnya kadang ibuku ngajak aku belanja di desa lain (naik mobil tentunya) kalau pasarannya di desa lainnya. Aku suka liat rempah-rempah macam ginseng, cabai kering, pakis, atau sejenisnya. Cumi dan guritanya biasanya masih fresh di ember dan ukurannya beneran besar-besar!

Yang dijual di pasar.

Ibuku pernah bilang kalau ada salah satu ibu-ibu pasar Namri-Ri sebel sama aku karena aku cuma ngefoto-foto doang tapi nggak beli. Ya, kan yang belanja bukan aku makdhe…

Kebanyakan yang jual dan beli sudah berumur. Kalau ibu-ibu, rambutnya pendek dikeriting dan memakai topi yang cuma ada penutup mukanya doang tapi rambutnya nggak ada penutupnya itu, lho. Celananya motif bunga-bunga. Dan, entah ibu-ibu atau bapak-bapak berumur, pasti kalau nggak bawa semacam traktor ya mobil ATV gitu ke pasar. Beneran, ATV yang buat offroad itu, lho. Hal ini karena mereka sudah terlalu tua buat ngendaliin mobil, tapi kesulitan naik motor. Ya ATV solusi terbaiknya, bukan?

Usai melewati pasar tumpah di depan toko-toko, aku masuk gang SMP di sebelah kiri. Kalau lurus ya cuma rumah-rumah penduduk dan Balai Desa. Gang SMP ini sebenarnya persis di belakang bukit Child Centerku, tapi karena kehalang bukit, ya kita makai jalan memutar untuk ke sana.

Taman di wilayah SMP ini cukup besar, asri, dan ketata. Ada gedung olahraga yang super gede juga walau lapangan dekat gedung utamanya tandus. Di gedung ini sering ada pertunjukan seni, macam itu lho masak gedubragan tapi jadi musik, mirip Namta atau Nanta ya namanya, lupa aku. Di pertunjukan itu ada pesan anti produk China-nya juga, lho, wqwqwqwq.

Waktu ngajar di SMP. Itu di depanku trio cewek premannya.

Sampai di gedung SMP, aku harus melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal selop khas hotel. Kaus kaki ndak boleh dicopot dong. Biasanya, pasti ada murid yang udah bawa nampan isinya tumpukan susu kotak pasteurisasi atau susu kedelai yang rasanya enak dan masih hangat buat dikasih ke siapa saja, termasuk aku. Sambil jalan ke lorong lantai tiga tempat aku ngajar, biasanya aku menghabiskannya. Terkadang, aku juga bertemu dengan bu guru Bahasa Inggris yang sayangnya Bahasa Inggrisnya nggak bagus sehingga kadang aku nggak mengerti apa maksudnya.

Beda dengan Junseok yang lumayan galak, murid-murid SMP lebih mengenal aku sebagai orang yang lebih santai. Kadang aku diajak main kasti kalau mereka sudah di Child Center. Mereka pasti keheranan kalau aku makai sarung karena mikirnya aku makai pakaian cewek.

Kalau yang cewek macam Bada yang ortunya juga kerja di Child Center, sering tanya soal PR atau sengaja ngobrol sama aku karena memang niat pengin ningkatin skill Bahasa Inggrisnya. Dia juga sering ngebawain camilan sembari kita ngobrol sampai dia diajak pulang orang tuanya.

Anak-anak SMP mau perform, Bada di antara Sarah dan ibu. Tolong jangan fokus ke sandal jepitnya.

Beda lagi dengan trio Tajong, Enjeong, dan Hana. Tiga cewek preman paling ditakuti semua murid SMP, nggak peduli gendernya ini malah kadang nggerudug kamarku langsung. Dengan bahasa Inggris yang masih kacau balau, mereka biasa membuka semacam chiki dan ngajak ngobrol apa saja sampai mereka pulang. Kadang mereka curcol naksir sama siapa gitu tapi gengsi karena statusnya mereka kan ditakuti. Kucluk dah.

Usai makan malam, suasana di Child Center biasanya semakin menyenangkan. Anak-anak selevel PAUD atau TK ada yang mainan komputer buat ngasah kecepatan ngetik dengan aplikasi tertentu. Yang cewek malah pada dansa-dansa bareng sambil nyanyi lagu SNSD. Mereka punya impian jadi artis terkenal jadi pede-pede aja pada nari-nari gitu di depan kami yang sudah lebih tua dan senyum-senyum melihat aksi mereka.

Kim Ji-In, That’s it, Thats the name.

Hanya, suasana bakal sangat berbeda kalau sudah akan ujian. Semua baca buku dengan tenang. Aku bahkan nggak boleh buka komputer oleh Kim Ji-In, anak kelas 2 SD yang aktif banget. Baginya, aku kalau udah buka komputer dan chat sama temen-temen, cekikikanku bakal ngganggu mereka belajar. Anak-anak SMP bahkan ada yang sengaja ngebawa kantung tidur ke Child Center kalau-kalau mereka belajar sampai larut malam.

Awal November 2009, usai pulang dari Busan, aku sampai di terminal mini Dongoe-ri sekitar pukul 22.00 malam. Bus itu adalah yang terakhir dari Kota Haenam. Aku sudah bersiap untuk makan malam dengan roti helaian cokelat, tapi ternyata ibu sudah berniat menyiapkanku makanan.

Usai mandi, pintu kamarku diketuk dan aku diberi satu nampan berisi semangkuk nasi merah, sayuran ndak tau mirip kangkung, daging ikan asin, kimchi, dan telur ceplok. Sangat sederhana sebenarnya, tapi entah mengapa itu jadi makanan paling enak yang pernah aku makan di Korea.

Kebetulan makanan yang enak banget itu kok ya kufoto.

Aku bahkan masih bisa merasakan nikmatnya makanan itu sampai sekarang. Rasanya sangat hangat mengingat saat itu pertama kali aku merasakan suhu Korea yang sangat dingin usai musim gugur yang cenderung hangat.

Keesokan harinya, badai melanda desaku. Suhu anjlok hingga -6 derajat Celcius. Aku baru bisa mengajar lagi lusanya. Saat berangkat pagi dan berjalan kaki ke SMP, aku sudah harus memakai baju dan jaket enam lapis demi menahan dingin. Sinar matahari memang masih terang, tapi satu-satunya yang menghangatkanku saat itu adalah gerakan tubuh yang terus berjalan cepat untuk sampai di gedung SMP yang ada mesin penghangat suhunya.

Aktif di Twitter @usuyeong dan IG @masbag

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store