Angkot Oranye Nomor 4

Angkot oranye di Purbalingga (Dolanpurbalingga.com)

Sekitar beberapa tahun lalu, teman kuliahku si Nunung tiba di Purbalingga. Dia memang terkenal sering melakukan touring dengan sepeda motor, baik itu sendirian atau dengan rombongan. Saat itu, dia sengaja mengirim pesan teks kepadaku karena tahu aku lahir dan menghabiskan sebagian besar masa kecil di kabupaten tersebut.

Pesan teksnya singkat dan cenderung bercanda. “Bag, angkot Purbalingga warnanya sama dengan warna tukang pos ya.” Aku tertawa membaca pesan tersebut karena meski dulu sering naik angkot, nggak pernah terpikir kalau warna cat oranyenya ternyata sama dengan warna Pos. Setelah dipikir-pikir, ternyata sangat berbeda dengan oranye dari angkot di kota-kota lain, termasuk Semarang.

Secara administratif, desaku masuk dalam wilayah kecamatan kota. Hanya, bukan berarti desaku mendapatkan pembangunan layaknya sebuah kota. Realitanya, desaku bahkan masuk desa tertinggal. Saat itu, SD-ku yang dikenal dengan sebutan SD Inpres bahkan sampai mendapatkan bantuan makanan tambahan bagi murid-muridnya. Entah apa tujuan dari bantuan makanan tambahan tersebut, mungkin agar murid-muridnya mendapatkan asupan gizi lebih baik jadi bisa berpikir dengan lebih cerdas, mungkin.

Beberapa kali aku diikutkan dalam lomba antar SD di tingkat kecamatan. Hasilnya, ya jelas aku paling nggak bisa menjawab semua pertanyaan dalam lomba tersebut. Nggak tahu kenapa, pertanyaan-pertanyaan yang aku temui seperti nggak pernah aku dengar sebelumnya. Sebagai contoh, ada pertanyaan tentang PROKASIH. Karena nggak tahu, mikirku itu adalah program kasih ibu, bukannya program kali bersih. Entah lah gimana itu tertawanya para juri melihat jawaban dari siswa SD desa tertinggal tersebut.

Berbeda dengan kebanyakan murid SD lain yang diantar baik itu dengan sepeda motor atau mobil untuk lomba di sebuah SD bergengsi yang lokasinya di tengah kota, aku saat itu diantar dengan angkot. Ya, angkot berwarna oranye yang dibahas oleh Nunung tadi.

Angkot yang kunaiki adalah yang bernomor 4. Nomor ini biasanya dipasang di atas atap mobil. Berupa pelat kayu dan rangka besi. Di rangka itu, ada kursi tambahan yang jika diperlukan bisa diturunkan agar bisa dipakai oleh penumpang untuk berdesak-desakan di dalamnya. Oh, ya, nomor 4 ini maksudnya adalah angkot ini trayeknya Bukateja — Purbalingga.

Dengan angkot ini juga aku sering diajak ibuku ke Pasar Bukateja untuk belanja atau ke Puskesmas di kecamatan tersebut karena aku dulu sering sakit. Dokter Puskesmas bahkan sampai hapal dengan aku karena seringnya ke sana. Hanya, yang benar-benar aku ingat justru adalah penjual jajanan gendongan yang selalu ada di Puskesmas tersebut. Jajanan pasarnya enak-enak. Meski aku seringnya membeli telur puyuh tusuknya saja.

Saat pulang dari pasar atau Puskesmas, ada orang yang pasti turun di sebuah gang bernama Bajong. Hingga sekarang, aku keheranan dengan orang yang turun di situ. Meski ada gapura dan jalan, setelahnya adalah area persawahan yang cukup besar. Logikanya, mereka harus jalan jauh ke perkampungan terdekat. Setelah melewati gang tersebut, akan tercium aroma kayu lapis dari pabrik dan jembatan Sungai Klawing.

Di hampir setiap pergantian Catur Wulan, ibuku membelikanku buku. Buku Babon jadi yang wajib aku miliki. Berkat buku itu, aku seperti banyak mendapatkan pengetahuan di luar sekolah. Ibuku juga terbiasa memberikanku komik. Hanya, biasanya setelah 30 menit usai komik itu dibuka, sudah habis kubaca. Terkadang, dia juga membelikanku banyak buku-buku pengetahuan. Entah bagaimana dulu aku sangat suka dengan ilmu tentang awan, bebatuan, geografi, dan sejenisnya. Bisa betah aku membaca buku yang sebenarnya sangat tebal tersebut.

Buku-buku ini didapat di Purbalingga. Aku lupa dari mana ibuku membelikannya. Mungkin sebuah toko buku, atau di pasar. Saat masih kecil, biasanya setelah membeli buku, ibuku mengajakku ke alun-alun untuk naik di salah satu dari dua patung meriam. Sepertinya, meriam itu sudah nggak ada lagi di alun-alun tersebut.

Ada sebuah kenangan yang aku ingat betul tentang angkot oranye Purbalingga. Saat itu, kakek tiriku (nenekku dulu sempat menikah lagi) mengajakku ke pasar. Dia memang bukan kakek yang tipikalnya penyabar, tapi seperti selalu ingin memberikan yang terbaik bagi cucu-cucunya. Meski aku bukan cucu kandung, entah mengapa selalu diperlakukan dengan sangat-sangat baik.

Beliau mengajakku ke pasar untuk membelikanku sebuah mainan. Hanya satu, ukurannya juga nggak lebih dari ukuran mouse komputer. Semacam pesawat-pesawatan berwarna oranye cerah dan hitam. Sayapnya bisa ditekuk sehingga bisa dijadikan semacam mobil-mobilan karena ada roda di bawahnya.

Saat akan pulang, waktu menunjukkan sudah pukul 17.00. Sudah nggak ada lagi angkot nomor 4 ke Bukateja. Semua sudah pulang. Adanya hanya angkot ke arah Kemangkon nomor 5. Kakekku akhirnya memutuskan untuk naik karena tinggal itu angkot yang tersisa. Aku sempat khawatir akan nyasar, tapi kakek menenangkanku dan bilang kita pasti bisa sampai rumah.

Sesampainya di pertigaan Bojong, kami turun. Masih ada sekitar 2–3 km an lagi untuk sampai ke rumah. Sudah nggak ada lagi angkutan umum. Akhirnya, aku digendong oleh kakekku berjalan kaki hingga ke rumah. Aku lupa apa saja yang kami bicarakan saat itu karena aku keasyikan memainkan mainan yang baru saja dibelikannya.

Kakekku sudah lebih dari satu dekade meninggal. Semenjak aku pindah ke Karangawen, hanya sesekali aku sempat melihatnya. Yang bikin trenyuh, terakhir aku ke sana, yang dikira aku adalah adikku yang masih kecil. Dia sudah nggak lagi mengenaliku yang sudah tumbuh lebih besar. Baginya, Arie yang dikenal sepertinya adalah cucu kecilnya yang dulu beliau gendong usai membelikannya mainan.

Seumur hidupku aku nggak pernah mengenal kakek-kakek kandungku. Tapi, aku tahu seperti apa kasih sayang seorang kakek kepada cucunya.

Aktif di Twitter @usuyeong dan IG @masbag

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store