Langit-langit kamar yang gelap. (medium.com/@Perspektif. — M. Rakha Ramadhan)

Child Center tempat aku menginap selama beberapa bulan berada persis di seberang Bomhotel yang beralamat 529–1 Dongoe-ri, Munnae-myeon, Haenam-gun, Jeollanam-do. Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti mengapa ada hotel bertingkat di desa itu. Memang, tempat yang juga dikenal sebagai Usuyeong ini adalah pusat kecamatan, namun tetap saja lokasi ini sangat terpencil dan terisolir dari mana-mana.

Meski persis di pingir laut, nggak ada pantai bagus di situ. Adanya hanya pelabuhan nelayan kecil yang terkesan kumuh, dikelilingi dengan rumah-rumah yang juga kumuh dan kebanyakan hanya ditinggali orang tua. …


Gudeg Permata di Jogja. (Behance/Robert Sipahutar)

Enam batang tebu dengan ukuran sekitar 50 cm masih ada di depanku. Satu batang sudah dikupas dan dipotong kecil-kecil. Orang tuaku sengaja melakukannya agar tebu ini nggak terlalu besar untuk dikunyah mulut anak kelas 3 SD kurus yang masih memakai celana merah sekolah dan singlet.

Aku mengunyahnya dengan penuh semangat. Air tebu yang manis membasahi kerongkongan, dan membuat mulut serta jari-jari tanganku lengket. Ampasnya kemudian kuludahkan ke tempat sampah. Sore yang cerah itu pun terasa sangat menyenangkan bagi anak yang tangan kanannya membengkak besar gara-gara disengat tawon beberapa saat sebelumnya.

Meski lebih suka dengan rasa biji ketapang yang sering kucari…


Ilustrasi, taman bunga saat musim panas di Korea. (hanachrisantyjioe.blogspot)

Hari ini tiba-tiba Ratri mengirim pesan Whatsapp. Isinya hanyalah berupa gambar parfum yang baru saja dia dapatkan. Sebenarnya ini agak aneh karena sudah sejak lama dia tahu aku alergi dengan parfum. Meski begitu, tujuannya hanya menunjukkan kalau Seoul, Ibu Kota Korea Selatan, jadi nama varian dari parfum tersebut.

Your favo city as a perfume,” tulisnya.

Aku justru tertarik dengan tulisan di bawah kata Seoul pada parfum tersebut: “532–8 Sinsa Dong, Gangnam-Gu.” Ratri pikir itu hanya seperti kode-kode tambahan saja. Namun, aku tahu kalau itu adalah sebuah alamat. …


(masdeewee.wordpress)

Hampir semua orang di dalam mobil Suzuki Carry yang AC-nya tidak begitu terasa itu memasang muka muram, termasuk aku yang usianya paling muda. Meski ada beberapa anak sepantaran lain di dalamnya, usiaku memang lebih muda satu tahun dari kebanyakan anak-anak SD kelas enam seangkatanku. Hanya, salah satu dari guru kemudian mengungkapkan rasa kecewa sembari berusaha menghiburku secara asal-asalan.

“Sudahlah Rie, kamu udah bagus banget tadi. Kita kalah karena memang sudah disetting kalah. Perwakilan kota harus juara,” ucap sang guru perempuan itu masih dengan muka penuh kecewa.

Sekitar satu jam sebelumnya, aku dipastikan menjadi pecundang dengan label juara kedua. Dari dulu…


Gyeongju dan kuburan besarnya. (Whc Unesco/ © CRA-terre)

Siang Itu, Sabtu 3 Oktober 2009, aku hanya duduk-duduk di sebuah kursi yang menghadap ke kuburan berukuran besar. Kuburan ini sebenarnya mirip seperti bukit dan jumlahnya cukup banyak. Kalau di film Gyeongju (2013), katanya di hampir semua sudut kotanya, pasti kamu akan bisa melihat permakaman berukuran besar tersebut.

Aku saat itu ditemani Nara. Dia lahir dan keluarganya tinggal Gyeongju. Saat itu, dia masih belajar sebagai ahli medis di Angkatan Bersenjata Korea Selatan. Gadis yang usianya sepantaran denganku ini kukenal beberapa bulan sebelumnya saat Workcamp di Tempuran, Banyuringin, Kendal. …


Sekitar pukul 10.00 WIB, kapal ini segera bertolak dari pelabuhan Jepara. Di bagian bawah kapal, berjejalan mobil pengangkut sembako dan sepeda motor. Meski saat itu adalah akhir tahun dan di musim hujan, sepertinya minat pelancong untuk menikmati Karimunjawa tetap tinggi. Aku adalah salah seorang di antara mereka.

Bersama dengan teman-temanku yang memiliki ide untuk datang ke kepulauan ini, kami berada di sisi timur kapal. Cahaya matahari cukup panas sehingga membuat kami memakai jaket atau apapun yang bisa menutupi kulit dari sengatannya. Bagian dalam kapal dan sisi baratnya sudah penuh sehingga kita mau nggak mau berpanas-panasan di luar kapal. …


Tiket konser L’arc en Ciel (everyshalalala.wordpress)

Pagi itu suasana di kos-kosan di Blunyahrejo cukup cerah, tapi aku enggan untuk segera bangun atau ke kamar mandi meski tv hanya menayangkan episode Spongebob yang sudah diulang puluhan kali. Di luar kamar, ada sejumlah mahasiswa yang sudah memanaskan mesin motornya hingga aroma knalpotnya sedikit masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba, ada pesan SMS masuk ke ponsel jadulku.

SMS itu datang dari Tami. Sebenarnya, secara garis keluarga, dia harus kupanggil bibi. Tapi karena usianya lebih muda dari aku, walau tidak banyak, aku biasa memanggilnya langsung dengan namanya. Dia juga terbiasa memanggilku dengan mas.

Meski masih satu keluarga besar, kita jarang bertemu…


Lapangan sepak bola (Google Street View)

Sore itu sekitar pukul 16.30. Langit cerah karena memang saat itu musim kemarau. Terdengar suara berdengung konstan dari layangan-layangan berukuran besar di langit yang harus diterbangkan dengan tali berukuran besar. Di sekitarnya terlihat burung-burung terbang dengan membentuk formasi ‘V’ ke arah barat.

Awan-awan di langit yang jarang sudah mulai menguning. Suhu sudah berubah menjadi lebih sejuk. Bayangan bambu di barat lapangan sepak bola sudah sangat panjang. Kami, teman-teman satu SMP sudah kelelahan usai bermain bola, berlari-lari, dan berebut lapangan dengan wedhus gembel yang sengaja dibiarkan makan rumput di sana.

Kami tidak membawa minuman dan kehausan, tapi entah mengapa saat itu…


Penerangan sebelum ada listrik. (Flickr/Michael Pollak)

Sepertinya saat itu aku masih balita karena yang aku ingat, sebelum masuk TK, aku sudah bisa membaca nama koran Suara Merdeka dengan lancar di bawah cahaya lampu. Saat itu malam hari. Aku tinggal di sebuah rumah dengan dinding entah kayu entah anyaman bambu, hanya disinari dengan cahaya teplok yang kuning. Api di dalamnya dilindungi semacam kaca sehingga saat pagi, biasanya kaca tersebut menghitam karena terkena asap semalaman dan harus dibersihkan.

Aku di kasur bersama dengan ibuku. Entah apa yang kami bicarakan saat itu. Yang pasti, ada suara radio kuno yang harus diisi dengan batu baterai ukuran besar tiga biji. Ibu…


Twitter, media sosial yang didesain seperti tempat sampah. (Twitter.com/waste4change)

Twitter adalah media sosial yang sangat unik. Berbeda dengan Instagram atau Facebook yang didesain untuk saling pamer atau saling sindir, Twitter memang sengaja didesain sebagai tempat sampah. Beda banget kan, di FB atau IG seakan semua unggahan itu berharga, tapi di Twitter isinya seperti sumpah serapah, protes, dan semua sisi gelap dari warganet.

Mas Galih, redaktur utama dari kantorku selalu merasa unik dengan mekanisme pengguna Twitter yang memang sangat berbeda dari media sosial lainnya. Twitter lebih mirip seperti bak sampah yang ditempatkan di depan rumah pemiliknya. …

Subagio

Aktif di Twitter @usuyeong dan IG @masbag

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store